Pemidanaan Teroris, Dipenjara Justru Menarik Pengikut, Dihukum Mati Malah Jadi Pahlawan



<!–

–> Jakarta – Belakangan ini gembong teroris lebih banyak ditemukan tewas tertembak dibandingkan ditangkap hidup-hidup seperti generasi Amrozi cs. Banyak kalangan menyayangkannya karena membuat “kisah terorisme” terputus begitu saja.

Polri berdalih bahwa para gembong teroris itu terpaksa dihabisi karena melawan saat digerebek. Namun spekulasi dan sas-sus yang beredar menyebutkan bahwa mereka sengaja dihabisi agar tidak menjadi ‘pahlawan’ sebagaimana yang terjadi saat Amrozi cs diadili dan prosesi hukuman mati berlangsung.

Terkait spekulasi itu, tampaknya perlu melirik buku Kombes Dr Petrus Reinhard Golose berjudul “Deradikalisasi Terorisme: Humanis, Soul Approch dan Menyentuh Akar Rumput.” Golose adalah penyidik polisi perkara terorisme yang juga pengajar luar biasa dari Kajian Ilmu Kepolisian Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Di halaman 54, Golose menulis bahwa pidana penjara seringkali tidak efektif dalam upaya menanggulangi kejahatan. Hal itu dipicu oleh kondisi penjara sendiri, baik keadaan fisik penjara maupun keadaan sosial dalam penjara. Tekanan di penjara justru membuat napi stres bahkan bunuh diri. Dari sini tampak bahwa tanpa penanganan yang ekstra, justru LP yang seharusnya memberikan pembinaan malah sebaliknya menjadi ajang penghancuran bagi diri terpidana.

Namun beda dengan napi terorisme. Golose tidak merinci apa yang terjadi pada napi terorisme. Dia hanya melampirkan riset yang dilansir ICG tahun 2007 berjudul ‘Radikalisasi dalam Lembaga Pemasyarakatan.” Alinea satu artikel itu berbunyi:

“Lapas Kerobokan di Bali memberi sebuah studi kasus menarik dalam hal perekrutan. Lapas ini menjadi tempat tiga pelaku utama bom Bali, Amrozi, Imam Samudra dan Muklas, ditahan hingga setelah bom Bali II bulan Oktober 2005, kemudian mereka dipindahkan ke Nusakambangan. Meskipun agak diisolasi, pengaruh mereka terhadap napi lain dan para sipir sangat dalam. Bagaimana mereka berhasil pengikut di sini menjadi pelajaran penting, karena proses yang hampir sama hampir pasti juga terjadi di tempat lain.”

Diceritakan tentang napi kasus narkoba berinisial Ahmed dan Hardi serta sipir bernama Beni yang kena “sebaran paham” trio bomber tersebut.

Lalu bagaimana jika teroris dihukum mati? Golose menulis vonis hukuman mati hanya memberikan satu manfaat yaitu pemuasan rasa dendam masyarakat. Pelaksanaan hukuman mati tidak bisa membuat tujuan dari pemidanaan tercapai. Berkaca pada hukuman mati pada Amrozi cs, masyarakat tidak sungguh-sungguh merasa aman di saat menjelang pelaksanaan hukuman mati karena saat itu ancaman teror kembali terjadi dengan munculnya sejumlah SMS ancaman bom. “Ini berarti, dengan adanya rencana pelaksanaan pidana mati, kondisi masyarakat kembali menjadi tidak tertib,” tulis Golose di halaman 56.

Di halaman 57, Golose menulis, pasca pelaksaan eksekusi mati Amrozi cs muncul suatu fenomena baru yang mengkhawatirkan. Para terpidana mati kasus terorisme oleh sebagian masyarakat dijadikan simbol kepahlawanan perjuangan umat Islam (syuhada). Simbolisasi kepahlwanan ini menunjukkan bahwa ideologi perlawanan dan tindakan teror tetap mengakar di masyarakat. Hal ini terbukti dengan penempatan foto-foto jenazah para terpidana mati, dilengkapi dengan sejumlah komentar yang menyanjung mereka sebagai pejuang dan dibuat seolah-olah tindakan mereka dibenarkan oleh Tuhan.

Dengan demikian, tulis Golose, upaya penegakan hukum dalam rangka pemberantasan terorisme membawa dampak negatif bagi masyarakat maupun napi yang lain. Dampak negatif itu antara lain:

1. Selama penantian pelaksanaan pidana mati, terpidana masih mengupayakan proses doktrinasi dan pengkaderan.

2. Munculnya pemikiran yang menjadikan para terpidana sebagai simbol kepahlawanan dan perjuangan Islam.

3. Menjelang pelaksanaan eksekusi mati para terpidana, justru muncul usaha-usaha untuk menebarkan suasana teror di masyarakat. (nrl/iy)

http://www.detiknews.com/read/2009/10/12/092022/1219632/10/dipenjara-justru-menarik-pengikut-dihukum-mati-malah-jadi-pahlawan?991102605

About Kureka

http://www.keymochi.com

Posted on 12 October 2009, in News. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: